Pertamina Targetkan 3 Ribu BPH Dari Sumur Tapen

PT Pertamina EP tengah gencar melakukan ekspansi dan mengenjot produksi minyak bumi dari sumur yang mereka kelola. Salah satunya adalah dengan eksplorasi di WKP atau Wilayah Kerja Pertambangan Pertamina di Sumur Tapen yang berlokasi tepat di Desa Sidoharjo, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Pertamina Targetkan 3 Ribu BPH Dari Sumur Tapen
Presdir Pertamina EP Rony Gunawan mengatakan bahwa saat ini korporasi tengah melakukan pemboran delineasi Sumur TPN-2. Pemboran tersebut dimaksudkan untuk membuktikan dari hasil kajian jumlah cadangan hidrokarbon yang terdapat dalam struktur Tapen.

Proses pemboran sumur delineasi TPN-2 ini ditargetkan selesai akhir tahun. Setelah pengeboran, jika struktur Tapen memang terbukti memiliki cadangan hidrokarbon sesuai dengan kajian yang dilakukan oleh tim ahli Pertamina maka langkah selanjutnya adalah menindaklanjuti dengna Penentuan Status Eksplorasi atau PSE sehingga Pertamina EP bisa melakukan Plan of Development atau PoD. Rony mengatakan bahwa diharapkan hasil pemboran ini bisa membuktikan cadangan yang tersedia didalam struktrur Tapen. “Kita berharap paling tidak bisa menambah jumlah produksi menadi 2 ribu hingga 3 ribu bph atau barel per hari jika dilakukan PoD,” kata Gunawan Jumat pagi 22 Juli 2016.

Direktur bagian Hulu PT Pertamina yang merupakan induk dari Pertamina EP, Syamsu Alam menjelaskan bahwa Pertamina akan tetap melakukan eksplorasi selama itu feasible terutama untuk lokasi sumur di Indonesia. Syamsu Alam menambahkan bahwa walaupun harga minyak mentah tidak dalam harga yang bagus akan tetapi ekslplorasi tetap akan dilakukan mengingat nafas industri minyak hulu sangat tergantung pada penemuan cadangan minyak baru.

“Direksi dan manajemen tetap pada posisi dan komitmen awal untuk mendorong investasi di sektor hulu terutama kegiatan eksplorasi dengan target menemukan sumur-sumur baru yang akan menjadi cadangan minyak baru bagi Pertamina,” kata Syamsu Alam

Dihari Ke-5, Uang Tebusan Pengampunan Pajak Mencapai 6 Miliar

Di hari ke-5 pelaksanaan kebijakan pengampunan pajak atau lebih dikenal dengan tax amnesty, uang tebusan yang dibayarkan oleh para peserta tax amnesty ini tercata lebih dari 6 miliar rupiah per Juma 22 Juli 2016. Angka ini meningkat 300 persen atau 3 kali lipat jika dibandingkan dengan 1 hari sebelumnya atau hari ke-4 yang hanya mencapai 2 miliar rupiah.

Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo mengatakan bahwa uang tebusan yang berjumlah lebih dari 6 miliar ini merupakan uang tebusan dengan pembayaran tarif 2 persen dari deklarasi SPT untuk 3 bulan pertama.

Mengacu pada peraturan Menteri Keuangan atau Permenkeu 118/2016, tarif sebesar 2 persen yang merupakan tebusan untuk termin pertama yang dikenakan kepada wajib pajak yang memiliki peredaran usaha atau perputaran uang sampai 4,8 miliar. Selain itu yang mengungkapkan nilai harta lebih dari 10 miliar rupiah dalam surat pernyataan harta juga dikenakan tarif yang sama yaitu sebesar 2 persen.

“Kemarin uang tebusan deklarasi yang sudah diterima oleh kas negera adalah 2 miliar atau 2 persen dari harta yang dilaporkan senilai 100 miliar rupiah. Untuk hari ke-5 ini angka tersebut melompat hingga mencapai 6 miliar rupiah atau 3 kali lipat dari jumlah di hari ke-4,” kata Mardiasmo di Kementerian Keuangan Jakarta, Jumat 22 Juli 2016.

Program pengampunan pajak atau tax amnesty merupakan program utama pemerintahan Joko Widodo untuk menarik kembali uang-uang atau dana milik WNI yang selama ini terparkir di luar negeri untuk menghindari kejaran pajak. Prateknya pemerintah akan memberikan pengampunan bagi WNI yang bersedia membawa pulang dana mereka dari luar negeri dengan hanya mengenakan pembayaran tebusan tanpa perlu khawartir akan dituntut secara pidana ataupun perdata.

Pemerintah menargetkan penerimaan dari salah satu kebijakan yang dianggap kontrovesial karena terlihat mengakomodasi orang kaya ini akan menghasilkan 165 triliun dalam bentuk uang tebusan yang akan digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur selain itu dana milik WNI tersebut diharapkan dapat menambah likuiditas bank dan pasar modal nasional sehingga memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Alasan HSBC Menolak Menjadi Bank Persepsi Tax Amnesty

Pemerintah untuk menyukseskan program Tax Amnesty mengundang 19 bank yang diperhitungkan akan menjadi gateway dari dana tax amnesty ini. Dari 19 bank tersebut HSBC atau Hongkong Shanghai Bank Corporation merupakan salah satu bank yang masuk dalam daftar tersebut. Akan tetapi dalam proses penandatangan MOU, HSBC secara mengejutkan menarik diri atau tidak melakukan penandatanganan MOU tersebut sebagai pihak yang bersedia menjadi gateway dana tax amnesty.

Walaupun demikian, HSBC Indonesia tetap mendukung kebijakan pemerintah mengenai program pengampunan pajak yang dimaksudkan untuk warga negara Indonesia yang memiliki dana diluar negeri agar membawa pulang dana tersebut.
Alasan HSBC Menolak Menjadi Bank Persepsi Tax Amnesty
Daisy K. Primayanti, Juru Bicara HSBC mengatakan bahwa bank yang berkantor pusat di London tersebut sangat menyambut baik undangan pemerintah untuk menjadi salah satu bank persepsi dan pengelola dana hasil tax amnesty ini. “HSBC Indonesia tetap pada posisi mendukung penuh semua kebijakan pemerintah terutama kebijakan yang membawa angin segar dan positif untuk iklim investasi Indonesia. Akan tetapi HSBC hanya akan mendukung terlaksanannya program ini melalui cara memberi informasi penting terkait dengan koridor panduan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah serta kebijakan dan prosedur internal HSBC,” kata Daisy Selasa 27 Juli 2016.

Sebagai bagian dari bank global yang memiliki cabang dilebih dari 100 negara, Daisy mengatakan bahwa HSBC tetap tunduk pada kewajiban dan komitmen bank terhadap regulator internasional. Oleh karena itu HSBC harus mempelajari terlebih dahulu kebijakan ini dari aspek individu, korporasi hingga pemerintah sehingga HSBC bisa mengetahui dengan jelas dampak negatif dan positif dari perjanjian ini.

Sebagai gambaran, bank yang secara langsung diundang pemerintah harus menandatangani terlebih dahulu persetujuan untuk bersedia ditunjuk sebagai gateway tax amnesty sebelum menandatangani kontrak resmi untuk menjadi bank gateway dan bank persepsi dalam program tax amnesty ini.

Pada pertemuan tersebut 18 bank yang diundang oleh pemerintah adalah, BCA, BRI, Bank Mandiri, BNI, Bank Danamon, Bank Pemata, Bank Pan Indonesia atau dikenal Panin, Bank UOB, Maybank Indonesia, CIMB Niaga, Bank Mega, Bank Bukopin dan Bank Syariah Mandiri. Selain bank-bank tersebut terdapat 1 bank BUMD yaitu BPD Jawa Barat dan Banten yang diikuti oleh 3 bank asing skala internasional yaitu Citibank, DBS Indonesia, Standard Chartered dan Deutsche Bank.

BI Diprediksi Turunan Suku Bunga Acuan Besok

Bank sentral Indonesia atau BI direncanakan mengumumkan hasil rapat Dewan Gubernur bulan Juli ini pada hari Kamis 21 Juli besok. Sejumlah ekonom memprediksi bahwa BI telah mendapatkan ruang untuk melakukan pelonggaran berhubung kondisi ekonomi nasional yang sudah lebih baik dari beberapa bulan yang lalu. Mengacu pada asumsi tersebut, Bank Indonesia diperkirakan akan menurunkan BI Rate.

Ekonom Samuel Asset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan bahwa bulan Juli ini merupakan momen paling pas dan terbaik bagi BI untuk menurunkan BI Rate. Hal ini didasari fakta bahwa besok adalah hari terakhir Rapat Dewan Gubernur yang akan memutuskan posisi BI Rate yang akan tetap, turun ataupun naik. Bulan Agustus menurut Lana tidak akan menjadi momen yang cocok karena BI Rate akan berubah menjadi BI Seven Day Reverse Repo Rate sehingga jika BI tidak ingin momentum ekonomi yang kembali didapatkan pemerintah tidak menjadi sia-sia maka BI Rate sudah seharusnya turun bulan ini.
BI Diprediksi Turunan Suku Bunga Acuan Besok
Lebih lanjut menurut Lana, kondisi eksternal atau luar negeri dalam hal ini keadaan ekonomi global juga memungkinan bank sentral untuk melakukan pemangkasan tersebut. Pertama karena The Fed sudah hampir dipastikan tidak akan menaikkan suku bunganya. Kedua, tambahan likuiditas karena program Tax Amnesty akan membuat pasar modal nasional dibanjiri oleh dana segar sehingga rupiah cenderung memiliki kekuatan untuk bertahan bahkan menguat.

Selain faktor eksternal tersebut, sambung Lana, masih terdapat faktor internal yaitu yang pertama adalah adanya kekhawatiran terjadi pelambatan ekonomi pasca lebaran sehingga dibutuhkan dukungan moneter terutama sektor swasta. Kedua masih berhubungan dengan tax amnesty yaitu akan adanya dana tersedia bagi pemerintah karena arus dana wajib pajak yang mengikuti Tax Amnesty diharapkan akan terserap sebagian oleh BUMN selain belum ditambah pertambahan pendapatan pajak dari uang tebusan Tax Amnesty ini.

“Penurunan merupakan hal paling logis karena bisa menjadi tambahan likuiditas. Disisi lain penurunan akan menjadi tenaga tambahan bagi perekenomian dalam negeri yang saat ini sudah mulai mendapatkan momentum. Saya perhitungkan BI masih mempunyai kemampuan untuk menurunkan 50 basis point menjadi 6 persen dari 6,5 persen,” kata Lana.

Tak hanya BI Rate, Lana juga memperkirakan bahwa suku bunga acuan juga memiliki ruang untuk di pangkas kembali yaitu sebesar 25 basis point menjadi 5 persen bahkan jika skenario fiskal dan target ekenomi pemerintah tercapai makan bisa aja BI Seven Day Reverse Depo Rate diturunkan menuju 4,75 persen pada akhir tahun.

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro juga memperkirakan hal yang sama yaitu penurunan BI Rate akan tetapi penurunan yang diprediksi yaitu sebesar 25 basis point dikarenakan BI yang cenderung tidak ingin mengambil resiko. Andry juga menghitung bahwa ruang pelonggaran akan terbuka lebar dikarena fundamental ekonomi sudah berjalan cukup baik sejauh ini walaupun pertumbuhan belum sesuai dengan target pemerintah.

Berbeda dengan ekonom yang memperkirakan akan terjadi penurunan, Ekonom dari Development Bank of Singapore atau DBS Gundy Cahyadi memperkirakan BI tidak akan menurunkan BI Rate pada bulan ini atau memilih tetap mempertahankannya. Menurut Gundy, BI akan fokus pada transmisi kebijakan moneter dikarenakan bank masih tergolong lambat dalam menyesuaikan suku bunga.

Gundy memperkirakan BI Rate akan dipertahankan karena Suku bunga Acuan yang baru

Go Jek Dapatkan Suntikan Dana Dari Investor AS

Investor global asal negera Paman Sam, Kohlberg Kravis Roberts atau KKR dan Codan Warburg Pincus LLC dikabarkan akan menyuntikkan dana ke salah satu perusahaan start up terbesar di Indonesia, PT Go Jek Indonesia. Jika terealisasi, suntikan dana ini akan membuat nilai perusahaan yang dipimpin oleh Nadiem Makarim akan menlonjak nilainya melebihi 1 miliar dollar AS.
Go Jek Dapatkan Suntikan Dana Dari Investor AS
Dilansir dari Wall Street Journal, dua investor yang pernah menjadi investor Facebook ini tengah membicarakan suntikan dana yang dikabarkan akan mencapai 400 juta dollar AS atau sekitar 5,24 triliun rupiah. Jika rencana tersebut terwujud, Go Jek akan menjadi salah satu start up yang diperhitungkan di regional karena nilainya yang akan mencapai lebih dari 1,2 dollar AS.

Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Start Up Indonesia Jefri R. Sirait menyatakan tidak heran jika Go Jek mendapat suntikan dari investor global karena dalam 2 tahun terakhir perkembangan aplikasi Go Jek cukup mengesankan.

Selain perkembangan Go Jek yang bagus, pertumbuhan penggunan internet bergerak atau mobile internet terutama dengan generasi yang melek teknologi juga menjadi alasan investor menganggap Start Up Go Jek cukup menggoda. “Penetrasi dan perbaikan kualitas internet yang sudah membaik jika dibandingkan dengan lima tahun lalu memicu munculnya generasi yang melek teknologi dan juga para pengguna ini menjadi semakin tertarik dengan aplikasi-aplikasi mobile yang mendukung aktivitas sehari-hari seperti Go Jek,” kata Jefri.

Saat ini Go Jek dapat dinilai sebagai salah satu start up dengan manajemen yang cukup baik dan profesional. Hal ini tercermin dari target pasar yang dibidik oleh perusahaan dan juga sumber dana yang mereka peroleh disertai dengan penggunaan sumber dana untuk ekspansi bisnis.

Sebelum Kohlberg Kravis Robers dan Codan Warburg Pincus LLC, Go Jek sudah terlebih dahulu mendapatkan suntikan dana dari investor global seperti Northstar Group, Sequila Capital dan DST Global.

Heru Sutadi yang juga mengamati rintisan tanah air berharap manajemen Go Jek Indonesia dapat menggunakan dana ini untuk pengembangan perusahaan karena selama ini Go Jek masih cukup tergantung dengan suntikan dana investor.

Pendaftaran Peserta Tax Amnesty Dibuka Hari Ini

Program pengampunan pajak telah dijalankan. Pada Senin 18 Juli 2016, Ditjen atau Direktorat Jenderal mulai membuka pendaftaran untuk peserta yang ingin mengikuti program pengampunan pajak atau Tax Amnesty di seluruh Kantor Pajak Pratama atau KPP.
Pendaftaran Peserta Tax Amnesty Dibuka Hari Ini
Direktur Pelayanan dan Penyuluhan atau P2 Humas Ditjen Pajak, Hestu Yoga Saksama mengatakan bahwa mulai Senin semua pihak yang mendaftar diri mereka kedalam Tax Amnesty dapat mendatangi KPP terdekat dikota mereka. ” Saat ini anggota di KPP sedang bekerja untuk menyiapkan semua fasilitas dan kebutuhan yang dibutuhkan untuk melayani para pendaftar Tax Amnesty,” kata Hestu.

Ditjen Pajak juga sudah mengirimkan surat edaran kepada setiap KPP untuk berkonsentrasi pada pelayanan pendaftaran program pengampunan pajak. Meja atau desk khusus pelayanan Tax Amnesty ini juga sudah disiapkan di setiap KPP. Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasetiadi mengatakan bahwa setiap KPP telah diinstruksikan mengalokasikan 60 persen anggota atau pegawai KPP untuk melayani pendaftaran pengampunan pajak ini terutama untuk bagian helpdesk.

Dalam proses tax amnesty ini, para petugas yang bertugas dilarang membawa alat komunikasi apapun terutama saat mereka bertugas untuk menerima dokumen ataupun data kelengkapan tax amnesty. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan data dari pihak-pihak yang ingin mendaftarkan diri untuk mengikuti program ini. Bagi petugas yang ketahuan membocorkan data tersebut, petugas tersebut akan dikenakan pidana penajra 5 tahun sesuai dengan yang diatur dalam UU Pengampunan Pajak yang baru disahkan selain itu ancaman pemecatan juga membayangi petugas yang melakukan penyimpangan atau penyelewengan pada proses Tax Amnesty ini.

Kata Hestu, para petugas pajak akan mulai bekerja Senin ini hingga 9 bulan kedepat atau tepatnya 31 Maret 2017 sesuai dengan masa waktu tax amnesty berlangsung. Otoritas pajak dalam hal ini Ditjen pajak juga sudah menyiapkan sistem informasi online yang mana menurut Hestu merupakan bagian terpenting dari Tax Amnesty ini karena terganggunya Sistem Informasi ini akan menganggu proses tax amnesty ini secara keseluruhan.

Pengamat perpajakan, Darussalam optimis kebijakan Tax Amnesty yang disebut-sebut kurang populer akan berhasil. “Baru kali ini saya melihat antusiasme yang tinggi dari Wajib Pajak dalam menyambut sebuah peraturan mengenai perpajakan Indonesia. Biasanya orang ketika ditanya pajak selalu terlihat wajah murung ataupun cemberut akan tetapi kali ini yang terlihat sedikit senyum bahagia,” kata Darussalam.

Darussalam mengatakan bahwa saat ini hanyalah tinggal menunggu bagaimana Ditjen Pajak menyiapkan semua hal yang dianggap perlu terutama untuk poin teknis seperti penanganan penerimaan surat permohonan pengampunan pajak. Darussalam merekomendasikan Ditjen Pajak untuk membuat simulasi terlebih dahulu untuk memastikan proses ini berjalan baik dan tidak dimanfaatkan oknum-oknum tertentu.

Perusahaan Tambang Tunggu Kepastian Peraturan Royalti Minerba Baru

Pemerintah tengah menggodok peraturan baru yang dimana untuk menaikkan tarif royalti yang harus dibayarkan oleh perusahaan tambang mineral dan batubara atau minerba. Latar belakang dibalik keinginan pemerintah menaikkan fee royalti adalah untuk mendorong penerimaan negara bukan pajak. Regulasi baru mengenai royalti ini diprediksi akan dilaksanakan pada tahun depan.
Perusahaan Tambang Tunggu Kepastian Peraturan Royalti Minerba Baru
Adapun komoditas tambang mineral dan batubara yang akan terkena perubahaan tarif royalti ini adalah tembaga, emas, nikel dan perak. Rencana regulasi ini tertuang dalam rapat panja RKP dan Prioritas Anggaran tahun 2017 antara Banggar DPR dengan Pemerintah di Jakarta.

Untuk persentase yang akan dinaikkan, Pemerintah menargetkan angka dari 3,75 persen ke 4 persen untuk tembaga, emas dari 1 persen dinaikkan 3,75 persen, perak naik dari 1 persen menjadi 3,25 persen dan terakhir, nikel di naikkan menjadi 2 persen dari 0,95 persen.

Ide kenaikan tarif royalti ini muncul karena kenaikan harga logam di pasaran internasional. Jika ide tersebut diterapkan tentunya akan berdampak pada perusahaan tambang yang memiliki bisnis inti di logam yang akan dikenakan tarif royalti yang baru.

Salah satu perusahaan tambang yang terkena imbas dari perubahan royalti ini adalah PT Aneka Tambang dan PT Vale Indonesia. Akan tetapi kedua perusahaan tersebut tidaklah memberi tanggapan berarti mengenai rencana pemerintah dan DPR karena masih ingin menunggu kepastian dari pemerintah.

“Kami belum mengetahui soal rencana ini. Kami juga menunggu detail dari peraturan tarif royalti yang baru ini. Untuk komoditas emas sendiri perusahaan kami telah membayar royalti sekitar 3,5 persen,” kata Trenggono Sutioso, Sekretaris PT Aneka Tambang atau Antam.

Trenggono mengatakan bahwa seharusnya rencana ini tidaklah akan berefek terlalu besar terhadap perusahaan karena selain sudah membayarkan royalti sekitar 3,5 persen dampak royalti terhadap kinerja perusahaan tidaklah besar. Trenggono menambahkan bahwa saat ini fokus utama korporasi adalah menggenjot produk olahan yang lebih menghasilkan dan memiliki margin yang tinggi.

Medco Energi Menerbitkan Obligasi 1,25 triliun Rupiah

PT Medco Energi Internasional berencana untuk menerbitkan surat utang atau obligasi senilai 1,25 triliun rupiah. Obligasi ini merupakan bagian dari Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan atau PUB II tahap I.
Medco Energi Menerbitkan Obligasi 1,25 triliun Rupiah
Dalam prospektus resmi yang dirilis Jumat 15 Juli, obligasi atau surat utang ini terbagi menjadi 2 seri berbeda. Seri pertama atau Seri A akan bernilai 327 miliar rupiah sedangkan seri kedua atau Seri B bernilai 923 miliar rupiah.

Serie A ini akan memiliki tenor selama 3 tahun dengan tingkat bunga berada di level 10.8 persen sedangkan Serie B memiliki tenor 5 tahun bunga 11,3 persen. Dalam melaksanankan aksi korporasi ini, Medco akan menggandeng 6 pelaksana emis efek dan penjamin emisi efek yaitu PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, PT BNI Securities, PT Indo Premier Securities, PT Mandiri Sekuritas dan PT DBS Vickers Securities.

Untuk obligasi ini, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo memberikan peringkat idA+ atau single A plus untuk obligasi MEDC. Obligasi ini direncanakan juga akan dicatatkan kedalam PT Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI.

Sebelumnya, Direktur Utama MEDC Hilmi Panigoro mengatakan bahwa target dana dari hasil penawaran umum berkelanjutan ini dipatok berada pada angka 5 triliun rupiah. Hilmi Panigoro juga mengatakan bahwa hasil 70 persen dari hasil dana obligasi tersebut akan digunakan untuk melakukan refinancing atau membiayai ulang utang perusahaan. Sisa 30 persen akan digunakan untuk membiayai belanja modal dan sejumlah rencana akuisisi yang akan dilakukan Medco termasuk yang terbaru yaitu mengakuisisi Newmont dari Amman Mineral dengan bekerjasama dengan AP Investment.

Untuk Rencana akuisisi Newmont, Medco sudah mendapatkan komitment pembiayaan dari Bank Mandiri, BRI dan BNI yang bersedia mengucurkan total pinjaman mencapai 750 juta dollar AS.

Sebelum rencana obligasi dan akuisisi yang akan dilakukan oleh perusahaan yang juga dimiliki oleh Arifin Panigoro ini, per Desember 2015, Medco telah mencatatkan utang sebesar 2,2 miliar dollar AS dengan total 1.6 miliar dollar AS merupakan pinjaman jangka panjang.

Laju Emas Berhenti Dan Kini Berbalik Turun

Laju kencang emas akhirnya berhenti, bahkan cenderung menunjukkan gejala menungkit atau melemah. Mengutip pada Bloomberg pada puku 12.12 WIB tanggal 14 Juli, harga emas kontrak pengiriman Agustus 2016 di Commodity Exchange merosot hingga mencapai 1,13 persen menjadi 1.328,30 dollar AS per troy ounce.
Laju Emas Berhenti Dan Kini Berbalik Turun
Selama sepekan terakhir ini, harga komoditas tersebut telah menukik 2,48 persen. Penurunan harga emas tersebut diindikasikan terkait dengan perbaikan pasar saham Eropa dan Asia setelah referendum Brexit Inggris. Saat ini pelaku pasar terlihat sudah mulai meninggalkan safe haven atau emas dan beralih menuju aset berisiko seperti saham ataupun forex sebagai instrument investasi.

Saat ini pasar tengah menanti langkah kebijakan yang akan diambil oleh bank sentral Inggris atau BoE / Bank of England dan juga pergantian kepemimpinan perdana menteri terutama respon terkait Brexit. Antisipasi ini menguntungkan USD karena sedikit menggerus kekuatan poundsterling selain itu berita bahwa nya paket stimulus yang akan dilakukan bank sentral China yaitu People’s Bank of China dan juga bank sentral Jepang yaitu Bank of Japan meningkatkan optimisme pasar.

Walaupun harga emas mulai menurun akan tetapi trend tersebut bisa berhenti jika mendapat stimulus dari luar terutama laporan Beige Book AS yang mengindikasikan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada tahun ini meskipun ekonomi AS telah mulai tumbuh dan bergerak ke arah postif. Penundaan kenaikan suku bunga ini terjadi karena efek Brexit yang membuat The Fed ragu untuk menaikkan Suku Bunga karena adanya kekhawatiran dollar AS akan kembali tertekan dan dimanfaatkan oleh harga emas.

Selama Juni 2016 ini, tercatat terjadi kenaikan permintaan dari jepang mencapai 60 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kenaikan permintaan emas di Jepang ini di konfirmasikan oleh salah satu peritel emas terbesar di Jepang, Tanaka Holdings. Menurut perusahaan tersebut, kenaikan tersebut dipicu oleh dialihkannya uang investor ke safe haven yaitu emas karena keadaan pasar yang belum stabil dan cenderung fluktuatif.

Naiknya Harga Komoditas Kembali Picu Surplus Perdagangan

Neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2016 diprediksi kembali surplus. Peningkatan harga rata-rata pada barang komoditas ekspor menjadi faktor dibalik surplus perdagangan ini.

Perkiraan ini disampaikan oleh Bank Indonesia dan sejumlah ekonom. Direktur Depertemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung memperkirakan neraca perdagangan bulan Juni 2016 akan kembali surplus dengan nomimal sekitar 800 juta dollar Amerika. Prediksi ini lebih tinggi dari nilai surplus pada bulan Maret, April dan Mei 2016 yang dimana masing-masing mencetak angka sebesar 497 juta dollar Amerika, 667.2 juta dollar Amerika dan 375,6 juta dollar Amerika.
Naiknya Harga Komoditas Kembali Picu Surplus Perdagangan
Ekonom dari Bank Permata, Joshua Pardede memeperkirakan surplus perdagangan Juni 2016 hanya sebesar 124 juta dollar AS. Penurunan ini disebabkan oleh kinerja ekspor yang menurun yaitu 9.3 persen yoy atau year on year yang mana lebih baik dari penurunan bulan sebelumnya yaitu 9.8 persen.

Impor sendiri juga mengalami penurunan yaitu 6,6 persen setelah pada bulan Mei mencatat penurunan 4,1 persen. Perbaikan kinerja ekspor ini dipicu oleh meningkatnya harga rata-rata dari barang komoditas seperti batubara yang mencapat peningkatan harga rata-rata sebesar 4,9 persen pada Mei.

Semenjak naiknya harga minyak dunia, harga batubara telah melonjak sebesar 4,1 persen yang dipengaruhi oleh permintaan negara yang masih menggunakan batubara sebagai bahan dasar pembangkit listrik. Sementara itu penurunan harga terjadi pada komoditas CPO yang mengalami penurunan sebesar 3,7 persen. “Peningkatan harga ini juga dipengaruhi oleh membaiknya aktivitas industri manufaktur dari negara yang selama ini menjadi mitra utama perdagangan Indonesia seperti Amerika Serikat, India dan Eropa walaupun China masih belum menunjukkan perbaikan,” kata Joshua.

Hingga akhir tahun, diprediksi belum ada perbaikan signifikan dari kinerja Ekspor akan tetapi impor kemunkinan akan meningkat terutama barang nonmigas seiring dengan peningkatan arus barang untuk kebutuhan menjelang akhir tahun atau pergantian tahun. Joshua memperkirakan surplus akan terjadi berada di kisaran angka 4,5 miliar dollar AS. Nilai tersebut lebih rendah dari surplus 2015 yang mencapai 7,7 miliar dollar AS.