BTN Targetkan Bunga KPR Non-Subsidi Dibawah 10 Persen

PT Bank Tabungan Negara atau BTN menargetkan untuk menurunkan bunga kredit komersial dan kredit pemilikan rumah atau KPR non-subsidi dapat diturunkan 1 digit. Manajemen BTN sendiri menargetkan realisasi penurunan bungan kredit tersebut terjadi pada Oktober 2016.

Penurunan suku bunga ini karena efektifnya perubahan kebijakan moneter BI yang berubah menjadi 7 Day Reverse Repo Rate pada Agustus 2016. Selain perubahan sistem moneter, mulai berlimpahnya likuiditas pada sisa tahun karena kebijakan amnesti pajak juga mendorong rencana dari BTN untuk menurunkan suku bunga kredit.
BTN Targetkan Bunga KPR Non-Subsidi Dibawah 10 Persen
“Target kami paling lambat adalah Oktober akan tetapi mungkin bisa lebih cepat,” kata Dirut BTN Maryono di Jakarta. Maryono juga mengatakan bahwa bunga KPR akan diturunkan pada Oktober 2016 ini adalah bunga kredit non-subsidi. Saat ini, bunga kredit non-subsidi BTN berada dikisaran 10,5 persen hingga 11 persen sedangkan bunga KPR subsidi sudah berada di posisi 1 digit yaitu sekitar 5 persen karena mendapatkan fasilitas pemerintah. Fasilitas dari pemerintah ini merupakan bagian program dari 1 juta rumah pemerintah untuk membantu masyarakat kalangan menengah kebawah.

Penurunan bunga kredit ini diprediksi akan diberlakukan jika pemberlakuan 7 Day Reverse Depo Rate atau suku bunga transaki penjualan Surat Utang Negara atau SUN antara BI dan Bank bertenor 7 hari sebagai bunga acuan efektif mulai berlaku 19 Agustus 2016.

Maryono juga mengatakan bahwa kebijakan pembatasan atau capping bunga deposito bank BUKU III dan BUKU IV juga akan mengalami koreksi dari BI Rate menjadi 7 Day Reverse Depo Rate sehingga menyebabkan suku bunga deposito akan turun lebih cepat. “Penurunan bunga deposito juga membuat biaya dana atau “Cost If Fund” menjadi lebih murah dan membuat bank memiliki ruang lebih luas untuk menurunkan bunga kredit,” kata Maryono.

Selain faktor perubahan bunga acuan tersebut, masuknya dana repatriasi dari amnesti pajak juga membuat BTN yakin bisa mendapatkan tambahan likuiditas minimal 50 triliun rupiah. BTN berharap dengan adanya likuiditas tersebut korporasi dapat bergerak lebih cepat menyalurkan kredit dengan target pertumbuhan kredit sebesar 19 persen hingga 20 persen pada akhir 2016.