Harga Minyak Akhirnya Turun Setelah 3 Bulan Menguat

Harga minyak akhirnya menyentuh harga terendah setelah menguat 3 bulan terakhir ini. Penurunan ini diliputi oleh membanjirnya pasokan dipasar. Berdasarkan Bloomberg, harga minyak WTI untuk pengiriman September 2016 di New York Mercantile Exchange atau Nymex tergerus 1,5 persen ke level 43,53 dolar AS jika dibandingkan satu hari sebelumnya.

Harga minyak tersebut telah tergerus sebelumnya pada hari keempat dan berada di harga terendah sejak 18 April 2016. Untuk sepekan terkahir, harga minyak telah terkikis 4,1 persen.
Laporan Minyak AS Membuat Minyak Tertekan 1,3 Persen
Analis PT Monex Investiond, Yulia Safrina menjelaskan bahwa sentimen utama yang menggerakan harga minyak adalah terkait persediaan. “Memang tingkat persediaan atau stok minyak yang dimiliki oleh Amerika Serikat tengah turun akan tetapi cadangan diberapa wilayah dilaporkan meningkat sehingga menyebabkan keseimbangan harga menjadi hilang,” lanjut Yulia Safrina.

Rilis terakhir dari Energi Information Administration menyatakan bahwa pasokan terakhir minyak AS turun 2,3 juta barel akan tetapi total cadangan minyak sebesar 519,5 juta barel merupakan angka tertinggi untuk sepanjang tahun ini.

Disamping itu, Baker Hughes Inc pada akhir pekan ini merilis rig pengeboran minyak AS naik 14 menjadi 371 rig yang merupakan kenaikan terbesar semenjak Agustus tahun lalu. Peningkatan pengeboran minyak tersebut berpotensi menambah pasokan minyak AS.

Tekanan terhadap harga minyak juga semakin bertambah dengan naiknya nilai dollar AS menjelang pertemuam FOMC atau Federal Open Market Committee minggu ini. Dengan beberapa faktor tersebut, gambaran harga minyak tinggal tergantung pada sisi permintaan.

Jika melihat perkiraan pertumbuhan ekonomi global, harapan untuk kenaikan permintaan minyak sulit tercapai sehingga akan sangat sulit bagi harga minyak untuk kembali naik. IMF sendiri telah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini yang awalnya diprediksi 3,2 persen menjadi 3,1 persen.

Untuk beberapa negara yang kerap mempengaruhi harga minyak, IMF juga menurunkan prediksi pertumbuhan Amerika menjadi 2,2 persen dari 2,4 persen sedangkan China sendiri juga diprediksi turun menjadi 6,6 persen dari yang awalnya 6,9 persen.