Perusahaan Tambang Tunggu Kepastian Peraturan Royalti Minerba Baru

Pemerintah tengah menggodok peraturan baru yang dimana untuk menaikkan tarif royalti yang harus dibayarkan oleh perusahaan tambang mineral dan batubara atau minerba. Latar belakang dibalik keinginan pemerintah menaikkan fee royalti adalah untuk mendorong penerimaan negara bukan pajak. Regulasi baru mengenai royalti ini diprediksi akan dilaksanakan pada tahun depan.
Perusahaan Tambang Tunggu Kepastian Peraturan Royalti Minerba Baru
Adapun komoditas tambang mineral dan batubara yang akan terkena perubahaan tarif royalti ini adalah tembaga, emas, nikel dan perak. Rencana regulasi ini tertuang dalam rapat panja RKP dan Prioritas Anggaran tahun 2017 antara Banggar DPR dengan Pemerintah di Jakarta.

Untuk persentase yang akan dinaikkan, Pemerintah menargetkan angka dari 3,75 persen ke 4 persen untuk tembaga, emas dari 1 persen dinaikkan 3,75 persen, perak naik dari 1 persen menjadi 3,25 persen dan terakhir, nikel di naikkan menjadi 2 persen dari 0,95 persen.

Ide kenaikan tarif royalti ini muncul karena kenaikan harga logam di pasaran internasional. Jika ide tersebut diterapkan tentunya akan berdampak pada perusahaan tambang yang memiliki bisnis inti di logam yang akan dikenakan tarif royalti yang baru.

Salah satu perusahaan tambang yang terkena imbas dari perubahan royalti ini adalah PT Aneka Tambang dan PT Vale Indonesia. Akan tetapi kedua perusahaan tersebut tidaklah memberi tanggapan berarti mengenai rencana pemerintah dan DPR karena masih ingin menunggu kepastian dari pemerintah.

“Kami belum mengetahui soal rencana ini. Kami juga menunggu detail dari peraturan tarif royalti yang baru ini. Untuk komoditas emas sendiri perusahaan kami telah membayar royalti sekitar 3,5 persen,” kata Trenggono Sutioso, Sekretaris PT Aneka Tambang atau Antam.

Trenggono mengatakan bahwa seharusnya rencana ini tidaklah akan berefek terlalu besar terhadap perusahaan karena selain sudah membayarkan royalti sekitar 3,5 persen dampak royalti terhadap kinerja perusahaan tidaklah besar. Trenggono menambahkan bahwa saat ini fokus utama korporasi adalah menggenjot produk olahan yang lebih menghasilkan dan memiliki margin yang tinggi.