TINS Optimis Harga Mumbul Di Bulan Juni

Sempat diliputi kecemasan karena capaian kinerja kuarta I 2016 yang tidak sesuai dengan harapan, PT Timah Tbk atau TINS kembali optimis untuk menapaki langkah bisnis semester II 2016 ini.

Hal yang memicu optimisme ini adalah berdasarkan catatan internal TINS, harga timah mulai menunjukkan prospek pada Juni 2016 lalu. PT Timah menghitung, dampak kenaikan harga timah tercermin pada kuartal III 2016. “Di kuartal III bila harga seperti ini dan mengarah ke arah kenaikan tentunya akan berdampak pada pendapatan perusahaan,” kata Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk, Agung Nugroho.
TINS Optimis Harga Mumbul Di Bulan Juni
Untuk kinerja Kuartal II 2016, PT Timah memprediksi akan mencetak laba atau revenue yang kurang lebih sama dengan kuartal II tahun lalu. Pada triwulan kedua tahun lalu, PT Timah mencetak pendapatan 1,92 triliun rupiah sedangkan pada kuartal pertama tahun ini revenue PT Timah mengalami penurunan sebesar 5,11 persen dibandingkan kuartal I 2015 dengan pendapatan hanya mencapai 1,3 triliun rupiah.

Selain penurunan pendapatan, kerugian berjalan yang dicatat pada kuartal I 2015 yang sebesar 6,42 miliar membengkak pada kuartal I 2016 menjadi 138,84 miliar disebabkan oleh pendapatan pada triwulan pertama yang jauh dibawah ekspetasi. “Penurunan ini diakibatkan oleh harga jual yang berada dibawah rata-rata 15,4 per metrik ton pada kuartal pertama sedangkan kuartal pertama tahun 2015 nilai per metrik ton mencapai 18,9 dollar.

Hingga akhir tahun ini, penjualan timah akan tetap menjadi sektor utama PT Timah. Upaya untuk mendiversifikasi bisnis TINS ke sektor lain seperti listrik sudah berada dalam proses persiapan untuk pematangan. Sebagai informasi, PT Timah saat ini tengah mengodok rencana untuk membangun PLTU dengan kapasitas 2×150 megawatt. Nilai investasi yang diprediksi akan di gelontorkan oleh TINS berkisar 1 triliun rupiah. Rencana ekspansi tersebut disebutkan oleh Agung belum akan terealisasi dalam waktu dekat ini.

Hal yang menghambat rencana tersebut adalah belum adanya izin dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM. Terkait masalah izin ini, PT Timah tidak bisa membeberkan target atau jadwal proyek ini akan dijalankan karena mereka masih harus memastikan pasokan bahan baku untuk menghidupkan PLTU tersebut yaitu batu bara bisa tersedia.