Impor China Menurun Turut Menekan Harga Tembaga

Tembaga terus mengalami trend penurunan selama sepekan terakhir. Penurunan ini disinyalir disebabkan oleh turunya impor China ditambah dengan penguatan USD. Diprediksi harga tersebut akan terus tergerus hingga akhir pekan ini.

Mengutip dari data Bloomberg, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange telah tergerus hingga 0,41 persen di leverl 4.690 dollar AS per metrik ton dibanding hari sebelumnya. Hal paling mengkhawatirkan adalah selama sepekan terakhir tembaga telah mencatatkan penurunan hingga 1,74 persen.
Impor China Menurun Turut Menekan Harga Tembaga
Ibrahim, Direktur PT Garuda Berjangka mengatakan bahwa angin negatif tengah menghantam posisi tembaga. Hal pertama adalah pasokan besar yang tidak didukung oleh permintaan yang seimbang. Sebagai contohnya saja adalah laporan impor China yang mencatatkan penurunan dari 305.304 ton menjadi 251.235 ton. Angka tersebut merupakan angka terendah dalam 17 tahun terakhir. Sementara itu ekspor tembaga justru menunjukkan kenaikan hingga 76 persen dibanding jJuni 2016.

Penurunan impor ini disebabkan oleh banyaknya smelter atau pengolahan tembaga di China yang memilih untuk berhenti berproduksi ditengah kelesuan ekonomi yang tengah melanda China sehingga para produsen atau pemilik smelter yang menghentikan produksi untuk meningkatkan margin produksi.

Keadaan terbaru ini tentunya sangat mengecewakan pasar terutama negara yang dikenal sebagai eksportir tembaga. “Ketidakseimbangan ini merupakan masalah fundamental bagi pelaku pasar karena harga turun justru ketika saat pasokan sedang membanjiri pasar. Keadaan ini akan membuat tembaga sulit merangkak naik,” kata Ibrahim.

Saat ini London Metal Exchange menunjukkan lompatan stok tembaga sebesar 14 persen dalam 2 hari beruntun. Lompatan ini dapat dikatakan sebagai lompatan tertinggi untuk kategori harian selama 7 bulan terakhir. Akibat dari stok yang begitu banyak, tembaga semakin terkikis dalam.

“Faktor lain adalah USD yang mulai menunjukkan penguatan dikarenakan spekulasi kenaikan suku bunga akan sedang dibicarakan oleh The Fed,” lanjut Ibrahim. Dengan Harga jual yang berpatokan pada USD tentunya ini akan semakin memperburuk kondisi tembaga.