BNBR Kembali Lakukan Restrukturisasi Utang Hingga Rp 5 Triliun

PT Bakrie & Brothers Tbk atau BNBR akan kembali merestrukturisasi utang yang mereka miliki. BNBR berharap dengan aksi koperasi ini dapat memangkas beban utang yang dimiliki sekitar 4 triliun hingga 5 triliun.

Dirut BNBR Bobby Gafur Umar mengatakan bahwa proses ini ditargetkan akan selesai dalam waktu kurang lebih satu hingga dua tahun ke depan. Restrukturisasi ini diklaim oleh Bobby akan membuat modal BNBR kembali kearah positif.

Dirinya menjelaskan, BNBR membutuhkan ruang yang lebih besar untuk dapat melakukan ekspansi bisnis terutama di bidang infrastruktur. “Kami sedang melakukan negosiasi dengan kreditur. Target restrukturisasi harus selesai pada tahun depan untuk hasil maksimal,” kata Bobby.
BNBR Kembali Lakukan Restrukturisasi Utang Hingga Rp 5 Triliun
Restrukturisasi akan dilakukan dalam beberapa opsi. Sebagai contohnya, menukar utang dengan saham atau memperpanjang termin utang yang akan jatuh tempo. “Beban utang saat ini dikategorikan cukup besar dan restrukrisasi ini dilakukan dengan kesepakatan dengan masing-masing kredikur dari BNBR yang akan jatuh tempo,” lanjut Bobby.

Saat ini BNBR tengah melakukan restrukturisasi yang menggunakan cara dengan menerbitkan Obligasi Wajib Konversi atau OWK. Nilai OWK yang diterbitkan oleh BNBR memiliki nilai RP 990,6 miliar. OWK ini akan dikonversi dengan mekanisme penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau non-HMETD senilai Rp 19,8 miliar saham biasa seri D. Jumlah dari OWK tersebut setara dengan 17,45 persen saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

BNBR mematok harga pelaksanaan OWK adalah Rp 50 per saham dengan jangka waktu selama 5 tahun. Dengan OWK ini, BNBR menargetkan dapat membayar utang kepada lima kreditur yaitu, Daley Capital Limited, Inventures Capital Pte Ltd, Maybank Kim Eng Securities. Harus Capital Limited dan Smart Treasure Limited.

Nilai utang terbesar berasal dari Daley Capital dan Interventures Capital yang mencapai Rp 430,3 miliar dan Rp 373,7 miliar. Restrukturisasi akan terus dilakukan oleh BNBR hingga rasio utang mencapai level yang lebih aman.

“Saat ini utang BNBR telah mencapai Rp 12 triliun. Tahun depan managemen menargetkan utang tersebut berada di level aman sekitar Rp 7 triliun,” kata Dody Taufiq Wijaya, Direktur Independen BNBR.

Dirinya mengatakan bahwa beberapa utang yang diharapkan dapat direstrukturisasi adalah utang yang dimiliki oleh Mitsubishi Corporation sebagai salah satu kreditur terbesar yang mencapai Rp 2 triliun dan Glencore International AG yang mencapai Rp 4,2 triliun.

Hingga Juni 2016, total beban BNBR telah mencapai Rp 12,3 triliun. Sementara itu modal masih tercata dalam posisi negatif yaitu sebesar Rp 2,9 triliun. Dody yakin dengan restrukturisasi utang ini dapat membuat modal BNBR kembali positif.