Loyo Di Hari Ketiga, Ini Faktor Penekan Rupiah

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa saat ini dollar AS masih mempertahankan trend penguatan untuk mayoritas mata uang dunia termasuk diantaranya adalah Rupiah menyusul kuatnya keyakinan pasar akan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang akan menunjukan angka positif pada akhir tahun.

“Penguatan dollar didorong oleh kenaikan suku bunga di Amerika Serikat yang diprediksi akan cukup agresif,” kata Ariston.

Dirinya menjelaskan bahwa saat ini The Fed atau bank sentral Amerika Serikat telah hampir memastikan akan menaikkan suku bunga sebanyak 3 kali pada periode tahun 2017. Sebagai respon rencananya tersebut, level bunga yang tinggi memicu permintaan dollar AS yang semakin tinggi.

Walaupun demikian, menurut Ariston, harga minyak yang juga mulai merangkak naik menyusul outlook cadangan minyak Amerika Serikat yang akan turun juga turut menjaga harga komoditas sehingga dapat menjaga fluktuasi mata uang komoditas.

Dari pantau harga, saat ini minyak mentah jenis WTI Crude pada Rabu sore telah menguat 0,64 persen menjadi US$ 53,64 per barel sementara itu minyak mentah jenis Brent Crude menguat 0,61 persen menuju posisi US$ 55,69 per barel.

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menambahkan bahwa konsistensi kenaikan harga komoditas juga menjaga fluktuasi mata uang domestik kedepannya.”Meski dalam jangka pendek pelemahan rupiah dapat bertahan akan tetpai daya tarik dari imbal hasil tinggi surat utang negara atau SUN serta harapan membaiknya pertumbuhan ekonomi karena kenaikan harga komoditas dapat mengembalikan momentun positif rupiah untuk jangka waktu menengah,” kata Rangga.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah melemah ke Rp 13.459 per dollar AS atau 0,61 persen dari penutusan kemarin Rp 13.438 per dollar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia mencatatkan nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp 13.473 dibandingkan dengna hari Selasa Rp 13.393.