Naiknya Harga Komoditas Kembali Picu Surplus Perdagangan

Neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2016 diprediksi kembali surplus. Peningkatan harga rata-rata pada barang komoditas ekspor menjadi faktor dibalik surplus perdagangan ini.

Perkiraan ini disampaikan oleh Bank Indonesia dan sejumlah ekonom. Direktur Depertemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juda Agung memperkirakan neraca perdagangan bulan Juni 2016 akan kembali surplus dengan nomimal sekitar 800 juta dollar Amerika. Prediksi ini lebih tinggi dari nilai surplus pada bulan Maret, April dan Mei 2016 yang dimana masing-masing mencetak angka sebesar 497 juta dollar Amerika, 667.2 juta dollar Amerika dan 375,6 juta dollar Amerika.
Naiknya Harga Komoditas Kembali Picu Surplus Perdagangan
Ekonom dari Bank Permata, Joshua Pardede memeperkirakan surplus perdagangan Juni 2016 hanya sebesar 124 juta dollar AS. Penurunan ini disebabkan oleh kinerja ekspor yang menurun yaitu 9.3 persen yoy atau year on year yang mana lebih baik dari penurunan bulan sebelumnya yaitu 9.8 persen.

Impor sendiri juga mengalami penurunan yaitu 6,6 persen setelah pada bulan Mei mencatat penurunan 4,1 persen. Perbaikan kinerja ekspor ini dipicu oleh meningkatnya harga rata-rata dari barang komoditas seperti batubara yang mencapat peningkatan harga rata-rata sebesar 4,9 persen pada Mei.

Semenjak naiknya harga minyak dunia, harga batubara telah melonjak sebesar 4,1 persen yang dipengaruhi oleh permintaan negara yang masih menggunakan batubara sebagai bahan dasar pembangkit listrik. Sementara itu penurunan harga terjadi pada komoditas CPO yang mengalami penurunan sebesar 3,7 persen. “Peningkatan harga ini juga dipengaruhi oleh membaiknya aktivitas industri manufaktur dari negara yang selama ini menjadi mitra utama perdagangan Indonesia seperti Amerika Serikat, India dan Eropa walaupun China masih belum menunjukkan perbaikan,” kata Joshua.

Hingga akhir tahun, diprediksi belum ada perbaikan signifikan dari kinerja Ekspor akan tetapi impor kemunkinan akan meningkat terutama barang nonmigas seiring dengan peningkatan arus barang untuk kebutuhan menjelang akhir tahun atau pergantian tahun. Joshua memperkirakan surplus akan terjadi berada di kisaran angka 4,5 miliar dollar AS. Nilai tersebut lebih rendah dari surplus 2015 yang mencapai 7,7 miliar dollar AS.

Laporan Minyak AS Membuat Minyak Tertekan 1,3 Persen

Harga minyak yang mulai menunjukkan penguatan setelah mengalami penurunan besar-besaran selama 1 tahun terakhir kembali tertekan setelah Amerika Serikat merilis data industri mereka yang menunjukkan cadangan minyak negara superpower tersebut meningkat.
Laporan Minyak AS Membuat Minyak Tertekan 1,3 Persen
Berdasarkan catatan Bloomberg pada Rabu 13 Juli 2016, harga minyak WTI untuk kontrak pengiriman Agustus 2016 di New York Mercantile Exchange atau Nymex tergerus 1,3 persen dibanding sehari sebelumnya. Sebelumnya pada tanggal 12 Juli atau hari Selasa semalam, harga minyak tercatat naik 4,6 persen.

American Petroleum Institute mencatat bahwa persediaan minyak AS naik 2,2 juta barel pada pekan lalu. Berbeda dengan American Petroleum Institute, Pemerintah yang akan merilis data resmi cadangan minyak AS diprediksi akan mencatat penurunan stok untuk meredam kecemasan pasar akan adalah kelebihan pasokan minyak yang akan membanjiri pasar sehingga mendorong minyak untuk melemah.

Minyak yang saat ini diperdagangkan pada level 44 dollar hingga 52 dollar per barel merupakan nilai tertinggi setelah komoditas yang disebut dengan emas hitam mengalami penurunan hingga setengah nilai sekarang yaitu 26 dollar per barel pada Februari lalu. Naiknya harga minyak disebabkan oleh gangguan produksi di Kanada dan Nigeria yang ditambah oleh jatuhnya output AS membuat harga minyak kembali meroket ke level 50-an dollar per barel.

“Minyak akan melemah bila stok atau cadangan yang berada di pasar melebih permintaan. Secara musiman seharusnya saat ini cadangan atau persediaan itu turun setidaknya hingga pertengahan Agustus. Ini menunjukkan bahwa minyak masih terjadi abnomali sehingga meningkatkan resiko investasi didalamnya,” kata Hong Sung Ki, Analisis Komoditas di Samsung Futures ketika ditanya oleh Bloomberg.