Awal pekan, rupiah masih rawan koreksi

Rupiah gagal mempertahankan penguatan di hadapan dollar AS pada akhir pekan kemarin. Isu eksternal diprediksi masih akan membebani laju mata uang Garuda pada awal pekan depan.

Di pasar spot, Jumat (10/2), kurs rupiah melemah 0,13% dibanding hari sebelumnya ke level Rp 13.312 per dollar AS. Sementara, kurs tengah Bank Indonesia mencatat, nilai tukar rupiah terkikis 0,07% ke posisi Rp 13.318 per dollar AS.

Faisyal, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures menyebut, sentimen eksternal menggerus tenaga rupiah pada akhir pekan lalu. Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menginginkan adanya reformasi pajak mengangkat nilai tukar dollar AS. Pernyataan tersebut dinilai mendukung pertumbuhan ekonomi AS.

“Pelaku pasar juga menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian politik di zona Euro sehingga turut menekan rupiah,” kata Faisyal.

Di sisi lain, pelemahan rupiah tidak signifikan lantaran masih ditopang oleh lonjakan harga komoditas terutama minyak bumi.

Selanjutnya, Faisyal meramal, data neraca pembayaran bisa mendukung pergerakan rupiah di awal pekan ini. BI melaporkan defisit transaksi berjalan tahun 2016 sebesar US$ 16,3 miliar atau 1,8% dari produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut lebih baik dibanding tahun 2015 sebesar US$ 17,5 miliar atau setara 2% dari PDB.

Namun, Faisyal menduga, rupiah masih berisiko terkoreksi pada Senin (13/2). Sebab, pelaku pasar lebih tertarik terhadap dollar AS setelah pernyataan Trump.